Asap Kayu Bakar di Gambesi: Ketika Tradisi Bertahan dan Nurani Menolak Modernisasi yang Dingin
GAMBESI, FAKTA DAN RASA- Di era ketika segalanya bisa diselesaikan lewat ketukan jari, pesan katering lewat aplikasi, menyewa mesin pemarut listrik, hingga menyerahkan seluruh urusan pesta pada event organizer., ada sebuah sudut tempat yang memilih untuk bergeming. Kelurahan Gambesi. Di tempat ini, modernisasi tidak lantas mengikis ingatan warga akan arti sesungguhnya dari kata kebersamaan.
Di saat daerah lain mulai menganggap kepulan asap kayu bakar sebagai hal yang mengganggu atau repot, warga Gambesi kota Ternate Selatan justru menjaganya sebagai simbol kehangatan. Tradisi memasak bersama menggunakan kayu bakar masih hidup saban kali hajatan digelar. Dari riuk renyah tawa di pesta pernikahan, hingga hening doa dalam duka di rumah warga yang ditinggalkan, tungku api tradisional itu selalu menyala.
Keringat yang Menjadi Perekat
Cobalah datang ke Kelurahan Gambesi saat ada hajatan atau kerabat yang tertimpa musibah. Anda tidak akan menemukan suasana individualis di mana orang-orang sibuk dengan gawai masing-masing. Di sana, para pria bahu-membahu masuk ke kebun untuk mengumpulkan dan memikul kayu bakar bersama-sama. Tidak ada hitung-hitungan rugi atau capek.
Sementara di sudut halaman, para ibu dan pemuda duduk melingkar memarut kelapa secara manual. Suara kukur kelapa yang khas dan riak percakapan hangat memecah udara. Padahal, jika mau, mereka bisa saja membeli santan instan atau menyewa mesin parut agar cepat selesai.
Namun warga Gambesi paham betul, yang dicari bukan sekadar cepat selesai, melainkan proses yang merekatkan.
Memarut kelapa secara tradisional dan mengumpulkan kayu bakar bukan lagi soal ketidakmampuan membeli teknologi modern, melainkan cara warga merawat kepedulian agar tidak mati digilas zaman.
Senyum di Pesta, Pelukan di Rumah Duka
Tradisi ini menemukan bentuk paling menyentuhnya saat duka menerpa. Ketika salah satu warga kehilangan anggotanya, tanpa dipanggil, tetangga akan datang membawa tenaga. Tungku didirikan, kayu bakar dinyalakan, dan wajan besar diturunkan. Mereka memasak untuk keluarga yang berduka, memastikan tidak ada perut yang lapar di tengah kepedihan.
Begitu pula saat pesta nikahan digelar. Gotong royong itu menjelma menjadi pesta kehangatan milik bersama. Bukan hanya sang pemilik hajat yang bersukacita, tetapi seluruh warga merasakan kebahagiaan yang sama karena mereka ikut mengeringatkan badan demi melancarkan acara.
Warisan Paling Berharga
Kita kerap kali mengutuk zaman modern karena dianggap membuat manusia semakin asing satu sama lain. Kita mengeluhkan pudarnya rasa kepedulian di masyarakat. Namun, Gambesi membuktikan bahwa kehangatan itu tidak pernah hilang, ia hanya butuh dirawat.
Melalui asap kayu bakar yang membumbung ke udara dan guratan kelapa yang dikerjakan bersama, warga Gambesi sedang mengajarkan kita pelajaran berharga. kemajuan zaman tak boleh merenggut kemanusiaan kita.
Selama kayu bakar masih dipikul bersama dan parut kelapa tradisional masih berbunyi di Gambesi, kita tahu bahwa persaudaraan sejati belum benar-benar punah dari muka bumi.
Komentar (2)
Hello nikah ibu ina & ibu anadan
Hello nikah ibu ina & ibu anadan
Related Articles